Ketika kalimat judul di atas menggelayuti sebagian diri saya selama berbulan-bulan, saya kembali berpikir.
Bisakah saya berhenti memikirkannya?
Sehingga benar dan salah menjadi bias dan tidak lagi menjadi masalah untuk saya.
i promise someday i would write a book about my meeting with a stranger.
i promise you.
Betapa saya suka berpikir mengapa bangku kuliah saya berbentuk kursi lipat rangka besi dengan papan kecil sebagai alas untuk menulis. Mengapa bukan sebuah meja besar dan panjang dengan kursi-kursi mengelilinginya. Lalu sang dosen duduk di salah satu kursi, berceloteh jenaka hingga murid-murid terpingkal.
Haha, iya, itu yang saya pikirkan ketika mengikuti kelas menggambar dengan teknik tracing seminggu yang lalu. Sebagai instruktur, R.E Hartanto duduk di tengah-tengah kami. Mengenakan kaos hitam dan kacamata. Ketika baru bertemu, kami semua berjabatan dan ia hafal nama kami semua. Super!. Membuat gambar dan celetukan riang yang sangat ‘seni banget’ seperti ‘di-Warhol-keun’ yang maksudnya dibuat seperti karakter gambar karya seniman Andy Warhol :p. Lalu beberapa menit kemudian mengaduk-aduk cangkir kopi robusta-nya sementara kami fokus menimpa gambar dengan ujung pena atau pensil masing-masing. Ahh, senangnya.

“Bang, udah ada serial Skins yang saya pesen?”
“Ada sih, tapi ngga ketemu subtitlenya seharian.”
“Oh, ngga apa-apa deh, bang.”
“Buat apaan sih?”
“Skripsi”
“Harus serial ya?”
“Ngga juga. Biar datanya banyak aja. Kalo film remaja ada lagi ga?”
“Banyak. Kalo yang mirip-mirip Skins sih film Kids.”
“Mau deh Kids.”
“Oke.”
……..
Komputer sedang dalam proses menyalin data ke flashdisk saya.
“Parah ini ceritanya Skins, saya baru tahu. Parah banget gaya hidup remaja di sana. Kids ini awalnya jadi cowo ngeboongin cewek, masih kecil padahal. Dia sengaja bikin cewek nyaman dulu sama dia. Abis itu…ya diboongin.”
………….
sekarang saya lagi nonton Kids. Owh, saya mual liatnya. Adegan saling lumat. zzzz
Aku tidak tahu kapan tepatnya sosok itu berada di sisi berseberangan di gang yang sama. Tetapi saat sudut mata menyapu, ia sudah ada di sana dan JalanĀ Caringin seketika menjadi panggung dengan lampu menyorot kami berdua saja. Aku di sisi kiri dua meter di belakang. Menyaksikan coat warna hijau army melenggang dengan ritme yang sama dengan langkahku. Celananya jeans hampir skinny, dilipat di ujung. Menggendong ransel kulit hijau tosca pastel.
“He must be an ugly guy,” ujarku pelan saja sambil terus berjalan mengamati kepulan asap rokok melewati capuchon-nya.
Dan, haha..maaf tebakanku sedikit salah. Sebab saat ia menyeberang, ia memalingkan wajahnya ke belakang oenuh waspada. Haha, sori mas!
Do you know? Deadline really has a different meaning for me. Several minutes prior to deadline, it is the time when my brain’s turning on. Deadline adalah jam 11 siang tadi. Baru pada saat itu gue bisa ‘ngeh’ aku harus ngetik apa. Dem you!
Lalu jam setengah 12 aku beranjak dari kostan, jalan ke depan gang, memanggil ojek, membuat si tukang ojek kepanasan demi menunggu proses printing dan photocopying.
Meluncur ke Fakultas yang baru saja ganti nama menjadi Fakultas Ilmu Budaya. Aku belum bikin janji sama dospem 2, jadi berniat menyerahkan draft saja. Punggung wanita itu terlihat sedikit dari celah pintu ruangannya. Sedang menghitung tumpukan lembar-lembar biru. Ah, wanita yang sangat kudambakan….dari mulutnya terlontar kalimat “Wah, skripsi kamu menarik. Saya punya banyak buku-buku tentang ini yang bisa kamu pinjam” atau “Oke, kamu boleh sidang”. Hahaha..
Aku mengendap masuk..
“Ibu, saya mau kasih draft :)”
“Iya, taruh di situ,” ia menunjuk wadah komputer jinjingnya.
“I, iya bu. Makasih bu. Oiya bu? kapan saya bisa bimbingan lagi, bu?”
“Nanti yah, saya belum bisa ngasih janji”
“Oh gitu bu. Yaudah, terima kasih”
OOOoooohh„tai sekali.
Kata temanku, dosen itu memang tai. Dan kita juga harus jadi tai, karena ditai-taiin sama dosen.
Aku belajar untuk tidak banyak bertanya.
Aku belajar untuk tidak mempermasalahkan hal-hal yang (kau anggap) tak penting.
Aku belajar untuk tidak berpikir terlalu jauh.
Aku belajar untuk mengerti.
Aku belajar untuk menahan sakit.
Tidak bertanya siapa dirimu, apa yang kau rasa, siapa dirinya, dan mengapa tak kau kabari aku.
Tidak mempermasalahkan mengapa kau tidak balas pesanku, atau mengapa kau memilih puluhan mil untuk bisa bertemu dengannya.
Mengerti betapa banyak waktu yang kau butuh dalam sehari.
Aku belajar untukmu.
Siapa bilang belajar hanya bisa dari bangku sekolah, dari bapak ibu guru yang arif bijaksana?
Bunyi bilabial adalah bunyi yang dihasilkan oleh bibir atas dan bibir bawah manusia. Coba kau katupkan kedua bibir dan alirkan udara dari rongga tenggorokan. Ada tiga huruf bilabial: [m], [p], [b]. Konon, bunyi bilabial adalah bunyi yang pertama kali dapat diucapkan seorang bayi karena paling mudah. Contohnya bunyi /Mama/, satu-satunya manusia paling penting bagi setiap bayi di penjuru dunia. Mama, mommy, ummi, ibu, semua mengandung huruf bilabial…
Mamanya Sardut..
Ibu-ibu mungil berparas jelita yang sayangnya kejelitaan tersebut tidak ambil bagian dalam membentuk wajah anak pertamanya ini.
Mamanya Sardut bukan pendidik yang keras. Cenderung lembek. Anak sakit sedikit ga boleh masuk sekolah.
Mungkin alasannya juga adalah takut anaknya terluka kalo kalah saat kelas 3 SMP Sardut mau ikutan speech contest antar kelas.
Sardut gelisah seharian merancang isi pidato dan menghafalkannya sambil terus bilang “Takut ga bisa”. Tanpa diduga Mama bilang “Udahlah ga usah ikut. Belum pengalaman juga kan?”. Sardut menganga memastikan pendengarannya berfungsi baik. Betul Mama barusan menyuruh tidak usah ikut? Yakin Mama tidak ngasih semangat? Sardut kecewa dalam hati dan beberapa hari kemudian membawa kabar dapat juara II.
Mama adalah ibu yang terlalu lembut. Disuruhnya aku jangan stres-stres karena skripsi. Disuruhnya aku main untuk penyegaran.
Ahh Mama..apaan deh